Etnografi
Dalam antropologi, etnografi adalah alat yang digunakan untuk memahami
suatu masyarakat melalui penelusuran nilai-nilai yang diyakini,
perilaku dan kebiasaan yang dijalani. Studi etnografi mulai digunakan
ketika para produsen produk dan jasa merasa tidak puas atas cara-cara
yang selama ini mereka tempuh untuk memahami konsumen, misalnya melalui
penyebaran kuesioner. Akan tetapi, para produsen-produsen tersebut
kurang dapat memahami “Apa yang diinginkan Konsumen?”.
Etnografi adalah
studi yang kaya akan informasi-informasi yang tidak didapat dengan
metode kuantitatif (penyebaran kusesiner). Dalam pelaksanaannya
menyertakan interaksi langsung dengan informan yang diteliti. Dengan
etnografi, perusahaan dapat mencari tahu dan mungkin menemukan
informasi yang tidak didapat melalui penyebaran kuesioner. Studi
etnografi dalam hal ini, informasi bukan hanya bersumber dari perkataan
responden, tetapi diperkaya dengan hasil pengamatan. Observasi yang
dilakukan pun beragam, mulai dari aktivitas, teks, foto, gambar, atau
simbol yang berhubungan dengan responden serta produk yang mereka
gunakan. Dalam konteks ini, etnografi mengubah perspektif pemasar (juga
pengembang produk dan jasa), membawa pandangan luar (konsumen) ke dalam
perusahaan.
Beberapa pendekatan riset etnografi saat ini telah dikembangkan oleh
para pakar pemasaran dan sudah diterapkan oleh beberapa perusahaan,
seperti Intel, Microsoft, Pfizer, J. Walter Thompson, Pizza Hut, dan
the New York Jets, dan Coca-Cola. Perusahaan seperti Intel pun, yang
tidak berhubungan langsung dengan pemakai komputer, sudah sangat maju
dalam menggali informasi mengenai konsumen melalui etnografi. Genevieve
Bell, seorang antropolog yang bekerja untuk Intel, dalam penelitiannya
di India, Indonesia, Cina, Singapura, Malaysia, Korea dan Australia
telah meningkatkan kesadaran Intel tentang bagaimana konsep rumah,
keluarga dan individu bervariasi dari satu budaya yang lain. Banyak
temuannya yang menentang asumsi Barat tentang bagaimana orang
menggunakan teknologi di seluruh dunia. Latar belakang kebudayaan
mempengaruhi nilai-nilai yang dimiliki manusia, bahkan mempengaruhi
sikap dan perilaku manusia yang merupakan faktor kebudayaan karena
manusia bertindak dalam lingkup kebudayaan,
Kebudayaan merupakan suatu kompleks keseluruhan dimana dimasukkannya
pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, adat istiadat serta
kebiasaan yang diperoleh oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Kebudayaan ini dijalankan oleh keadaan yang batasnya cukup bebas pada
perilaku individu dan berpengaruh fungsinya dari institusi, seperti
keluarga.
Konsep keluarga dalam hal ini adalah anggota keluarga, yaitu Ayah, Ibu
dan anak. Di Asia, pengguna computer pribadi atau PC (Personal
Computer) adalah seluruh anggota keluarga. Hal ini berbeda dengan
asumsi Barat yang beranggapan bahwa pengguna PC adalah individu bukan
keluarga. Jadi, latar belakang kebudayaan merupakan hal yang
berpengaruh dalam pemasaran suatu produk. Dalam penelitian etnografi,
peneliti harus menjaga rapport atau hubungan baik dengan objek
penelitian. Hal ini menjadi bukti bahwa pentingnya penelitian Etnografi
dalam suatu penelitian mengenai Bisnis.
Bahan Rujukan: Beyond the Ivory Tower: Collaborations with Business Folk John L. McCreery
sumber : http://hanyaberita.wordpress.com/2010/12/21/penggunaan-etnografi-dalam-bisnis/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar